Disbun Kaltim Dukung Program Biodiesel B50, Sawit Disiapkan Jadi Pilar Energi Terbarukan

Penulis: Wendra Kusuma  •  Selasa, 08 September 2026 | 13:41:31 WIB
Plt Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Arief Murdiyatno menyampaikan dukungan terhadap program biodiesel B50 di Samarinda, Senin.

Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Kalimantan Timur menyatakan dukungannya terhadap penerapan program biodiesel B50 sebagai langkah strategis transisi energi. Kebijakan yang memakai campuran minyak kelapa sawit sebesar 50 persen ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan daerah pada bahan bakar fosil.

SAMARINDA — Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur buka suara soal program biodiesel B50 yang tengah digodok pemerintah pusat. Kebijakan ini dinilai bukan sekadar soal bahan bakar, melainkan momentum transformasi kelapa sawit menjadi tulang punggung energi terbarukan nasional.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Arief Murdiyatno menjelaskan, B50 adalah bahan bakar diesel dengan campuran minyak kelapa sawit mencapai 50 persen. Artinya, separuh isi tangki kendaraan bermesin diesel nantinya berasal dari komoditas perkebunan.

Mengapa Sawit Kaltim Krusial untuk Program B50

"Kalau sudah berbicara energi, ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kita melihat jumlah kendaraan yang menggunakan bahan bakar diesel juga cukup besar," ujarnya di Samarinda, Senin.

Menurut Arief, kebijakan ini membuka peluang besar bagi kelapa sawit untuk bertransformasi. Komoditas itu tak lagi sekadar produk perkebunan, tetapi berpotensi menjadi pilar penting dalam rantai pasok energi terbarukan dunia.

Substitusi ini dinilai strategis di tengah ancaman penurunan produksi minyak bumi domestik maupun global. Sawit disebut bisa menjadi penopang ketika produksi migas melemah.

Hilirisasi dan Peluang Ekonomi Baru bagi Daerah

Di luar ketahanan energi, hilirisasi biodiesel berbasis sawit berpotensi mengerek nilai tambah ekonomi daerah. Sektor perkebunan disebut bisa lebih produktif dan berkelanjutan.

Program ini juga memperluas pasar industri kelapa sawit yang selama ini didominasi sektor pangan seperti minyak goreng. Sawit tidak lagi bergantung pada satu segmen pasar saja.

"Kalau produksi minyak kita turun, bisa disubstitusi dengan minyak sawit. Sekarang ini perkebunan sawit kita mulai tumbuh, sehingga energi nasional bisa lebih didukung oleh sumber daya domestik," katanya.

Apa Saja Syarat agar B50 Berjalan Mulus?

Kendati prospektif, Arief mengingatkan implementasi B50 tidak bisa serta-merta. Butuh kesiapan menyeluruh di hulu hingga hilir.

Beberapa hal yang disorot meliputi kepastian pasokan bahan baku, kapasitas industri pengolahan, keandalan sistem distribusi, hingga kesiapan teknis mesin kendaraan yang bakal memakai campuran biodiesel lebih tinggi.

Sinergi lintas sektor pun dinilai wajib. Transisi menuju energi hijau ini harus berjalan optimal tanpa mengabaikan tata kelola perkebunan yang baik, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan petani sawit.

Melalui momentum B50, Kalimantan Timur diharapkan mampu mengoptimalkan potensi perkebunan lokal sekaligus memperkuat posisi daerah dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Reporter: Wendra Kusuma
Sumber: kaltim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top