Dinkes Kaltim Minta Warga Waspadai ISPA sampai Leptospirosis Imbas Asap Karhutla

Penulis: Zaki Mubarak  •  Kamis, 03 September 2026 | 20:39:31 WIB
Petugas kesehatan memeriksa warga yang terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Samarinda, Kalimantan Timur.

SAMARINDA — Kualitas udara di Kalimantan Timur yang memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu peningkatan risiko sejumlah gangguan kesehatan. Dinas Kesehatan Kaltim meminta warga mewaspadai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), alergi, diare, hingga leptospirosis selama kondisi ini berlangsung.

Imbauan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dr Jaya Mualimin. Ia mengingatkan bahwa paparan asap dan debu dalam beberapa hari terakhir tidak boleh dianggap sepele, terutama oleh kelompok rentan.

ISPA dan Alergi Jadi Keluhan yang Paling Sering Muncul

"ISPA menjadi salah satu penyakit yang banyak terjadi ketika kualitas udara memburuk," ujarnya Kamis (3/9/2026).

Jaya menerangkan ISPA sebagian besar disebabkan oleh virus, mulai dari influenza hingga jenis lain yang menyerang saluran pernapasan. Masa penyembuhannya berlangsung sekitar satu minggu. Jika disertai demam, warga disarankan segera memeriksakan diri ke Puskesmas.

Debu yang beterbangan juga berpotensi memicu reaksi alergi. Keluhannya bisa berupa gatal-gatal setelah tubuh terpapar partikel debu secara berlebihan.

"Paparan debu juga dapat meningkatkan keluhan alergi serta gatal-gatal pada masyarakat," jelasnya.

Diare dan Leptospirosis Mengintai dari Lingkungan yang Tak Bersih

Gangguan kesehatan akibat karhutla tidak berhenti pada saluran napas. Kebersihan tubuh dan lingkungan menjadi faktor kunci yang menentukan risiko penyakit lain, termasuk diare dan leptospirosis.

Diare perlu diwaspadai ketika masyarakat mengalami keterbatasan ketersediaan air bersih. Risiko itu bertambah besar bila lingkungan dipenuhi tikus, ayam, atau hewan lain yang bisa menjadi perantara penyebaran bakteri.

Tikus, misalnya, dapat membawa bakteri Leptospira melalui urine yang mencemari lingkungan maupun sumber air. Paparan bakteri itu berisiko terjadi jika tangan tidak dicuci sebelum menyentuh makanan. Gejala leptospirosis yang perlu diwaspadai antara lain demam, menggigil, dan gangguan pencernaan.

Masker, Cuci Tangan, dan Air Putih Jadi Langkah Kunci

"Gunakan masker saat beraktivitas di luar untuk mengurangi paparan polutan udara," imbaunya.

Ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, warga sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Sebaliknya, kegiatan bisa berjalan normal jika indeks udara sudah kembali sehat.

Membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan menjadi cara sederhana menekan risiko diare dan leptospirosis. Saat cuaca panas dan udara kering, perbanyak minum air putih juga dianjurkan.

Kelompok rentan disebut memiliki risiko lebih tinggi terdampak polusi udara, sehingga perlindungan ekstra perlu diberikan selama masa karhutla. Warga dapat terus memantau informasi kualitas udara dari kanal resmi sebelum memutuskan beraktivitas di luar rumah.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: topikalimantan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top