Review Mitsubishi Xforce HEV di GIIAS 2026: Bensin 24 km/L, Jarak Tempuh 1.172 km

Penulis: Yanuar Fahrezi  •  Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:05:31 WIB
Mitsubishi New Xforce HEV dipamerkan di Hall 10A ICE BSD City pada ajang GIIAS 2026.

KALIMANTAN TIMUR — Peluncuran New Xforce HEV di Hall 10A ICE BSD City pada 29 Juli 2026 menandai langkah baru Mitsubishi di pasar elektrifikasi Indonesia. Kami menyempatkan menelisik detail teknis dan hasil uji konsumsi bahan bakar yang dibeberkan langsung oleh PT MMKSI di sela-sela pameran. Yang menarik, angka efisiensinya bukan sekadar klaim pabrikan—sudah ada bukti nyata dari pengujian jarak jauh.

Hasil Uji Nyata: 1.172 Km Sekali Isi, Bukan Sekadar Angka Pabrikan

MMKSI mengklaim jangkauan lebih dari 1.000 kilometer dengan tangki 42 liter. Klaim itu kemudian dibuktikan lewat ajang Single Tank Challenge Jakarta–Bali yang digawangi pereli nasional Rifat Sungkar. Hasilnya? Catatan 1.172 kilometer berhasil dituntaskan dalam sekali pengisian penuh.

Pada kecepatan rata-rata 70–80 km/jam, konsumsi bahan bakarnya menyentuh 27,9 km per liter. Bahkan dengan gaya berkendara agresif di medan Jabodetabek, pengujian internal MMKSI mencatat batas bawah 20,5 km per liter. Angka realistis untuk pemakaian harian ada di kisaran 24 km per liter.

Kalau dihitung untuk rutinitas bulanan, selisihnya signifikan. Pengendara dengan jarak tempuh 50 km per hari selama 25 hari kerja butuh sekitar 51 liter bensin per bulan dengan konsumsi 24,4 km/l. SUV bensin biasa yang cuma 12 km/l di kemacetan membutuhkan hampir 104 liter. Dengan harga bensin Rp13.000 per liter, penghematannya sekitar Rp690 ribu per bulan atau Rp8,3 juta setahun.

Jantung Hybrid Generasi Kedua: Mesin Atkinson Bertemu Motor Listrik 255 Nm

Sistem full hybrid yang diusung Xforce HEV memadukan mesin bensin 1.6L DOHC MIVEC berkode 4A92 bersiklus Atkinson dengan motor listrik. Mesinnya menghasilkan 107 PS dan torsi 134 Nm, sementara motor listriknya menyumbang 116 PS dengan torsi instan 255 Nm. Tenaga disalurkan lewat transaxle hybrid dua-percepatan berkarakter e-CVT.

Baterai lithium-ion 1,1 kWh mengisi sendiri melalui energi pengereman dan mesin yang sesekali berperan sebagai generator—tidak perlu colokan listrik sama sekali. Sistem ini mengadopsi empat mode kerja otomatis: motor listrik murni saat merayap, mesin sebagai generator saat baterai butuh daya, keduanya berpadu saat akselerasi, dan mesin terhubung langsung ke roda di kecepatan tinggi.

Ada juga fungsi motor disconnect yang memutus motor listrik dari poros penggerak pada kecepatan tinggi untuk menekan kehilangan energi. Ini penyempurnaan dari sistem hybrid Xpander HEV yang lebih dulu beredar di Thailand. Dalam kondisi tertentu, mode listrik mampu membawa Xforce HEV melaju hingga 121 km/jam sebelum mesin bensin mengambil alih.

Warisan PHEV dan Reli: Fondasi yang Tidak Dibentuk Semalam

Teknologi ini bukan lompatan instan. Mitsubishi membangunnya dari dua jalur panjang: kemampuan membaca medan yang ditempa puluhan tahun di lintasan reli, dan pengelolaan tenaga listrik yang tumbuh dari pengembangan SUV plug-in hybrid pertama di dunia, Outlander PHEV. Dua fondasi itu kini bertemu dalam satu kendaraan yang diproduksi di Indonesia.

President Director PT MMKSI, Atsushi Kurita, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus menyempurnakan produk dengan mendengarkan kebutuhan konsumen Indonesia. "Penyempurnaan yang kami hadirkan tidak hanya terlihat dari sisi desain dan fitur, tetapi juga diwujudkan melalui pengalaman berkendara secara menyeluruh yang menawarkan kenyamanan, rasa percaya diri, dan performa yang semakin baik untuk mendukung mobilitas sehari-hari," jelasnya, dikutip Senin (24/8/2026).

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli

Efisiensi memang jadi nilai jual utama, tapi ada beberapa catatan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, kapasitas baterai 1,1 kWh terbilang kecil—ini memang desain hybrid konvensional, bukan plug-in, jadi jangan berharap bisa berkendara full listrik dalam jarak jauh. Kedua, posisi harga Xforce HEV di segmen SUV kompak premium akan bersaing langsung dengan kompetitor hybrid lain yang sudah lebih dulu mapan di pasar Indonesia.

Ketiga, karakter e-CVT dengan transaxle dua percepatan mungkin terasa berbeda bagi pengemudi yang terbiasa dengan transmisi konvensional. Perlu adaptasi, terutama saat menyalip di jalan tol atau tanjakan. Selebihnya, untuk penggunaan harian di perkotaan yang padat, sistem hybrid ini justru bekerja paling optimal—tepat di kondisi lalu lintas Indonesia yang macet.

Kesimpulan: Efisiensi Ekstrem dengan Kompromi yang Masih Wajar

Xforce HEV jelas menyasar konsumen yang menghitung setiap rupiah pengeluaran bahan bakar. Dengan jarak tempuh nyaris seribu kilometer per tangki, frekuensi singgah ke SPBU berkurang drastis—sesuatu yang langsung terasa di kantong bulanan. Teknologi hybrid-nya matang, terbukti, dan diproduksi lokal yang berarti suku cadang dan servis lebih mudah dijangkau.

Mobil ini paling cocok untuk pengguna harian dengan rute padat di dalam kota, keluarga yang sering perjalanan jauh, atau siapa pun yang ingin beralih ke elektrifikasi tanpa drama infrastruktur charging. Namun, kalau kamu mencari sensasi berkendara sporty atau butuh kapasitas baterai besar untuk mode listrik murni, Xforce HEV bukan jawabannya. Untuk kebutuhan itu, ada segmen lain yang lebih sesuai.

Reporter: Yanuar Fahrezi
Sumber: otosia.liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top