BALIKPAPAN — Memorandum of Understanding (MoU) itu ditandatangani di Gedung Pusat UGM, Yogyakarta, Kamis (21/8/2026), oleh Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D. dan Rektor Uniba Dr. Ir. Isradi Zainal. Isradi mengaku resah karena selama ini sejumlah proyek di Kalimantan Timur lebih banyak melibatkan kampus besar dari luar daerah, sementara ruang bagi perguruan tinggi lokal masih terbatas.
Fokus utama kerja sama ini bukan sekadar seremonial kelembagaan. Kedua universitas sepakat mendorong penelitian yang berorientasi pada pemecahan masalah aktual di daerah, bukan hanya riset akademik semata.
Prof. Ova menegaskan bahwa UGM tidak ingin datang sebagai aktor dominan. “Kita bukan ingin memperlebar ke Kalimantan, tapi kami juga ingin ada misi yang sifatnya adalah untuk pemberdayaan dan pembinaan. Kami di UGM juga tidak bisa berjalan sendiri, kami butuh mitra-mitra lain,” ujarnya.
Isradi menilai jejaring alumni UGM atau Kagama yang tersebar di Kalimantan Timur bisa menjadi kekuatan strategis. Jaringan ini dinilai mampu mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lain untuk mempercepat pembangunan daerah.
“Perguruan tinggi lokal perlu mendapat kesempatan untuk berkontribusi sekaligus meningkatkan kapasitasnya melalui kolaborasi dengan kampus besar di luar daerah,” kata Isradi, dikutip dari laman ugm.ac.id, Minggu (23/8/2026).
Ia berharap kolaborasi ini melahirkan program konkret, bukan hanya dokumen kerja sama yang berhenti di meja. “Jadi poin yang disampaikan yakni kami meminta bimbingannya agar perguruan tinggi di luar Jawa bisa berkembang bersama-sama,” tuturnya.
Dalam periode lima tahun ke depan, kedua institusi akan menyusun skema riset bersama yang mengedepankan prinsip locally needed. Artinya, penelitian yang dilakukan harus benar-benar dibutuhkan masyarakat dan hasilnya bisa diterapkan di lapangan, terutama dalam konteks pembangunan IKN yang masif.
Keberadaan IKN memang mengubah peta kebutuhan riset di Kalimantan Timur. Isu seperti tata kelola lingkungan, urbanisasi, ketahanan pangan, hingga transformasi digital menjadi lahan kajian yang relevan untuk diisi oleh peneliti lokal bersama akademisi UGM.
Bagi Uniba, keterlibatan ini adalah momentum untuk menaikkan kelas. Dengan pendampingan dari UGM, kapasitas peneliti lokal diharapkan meningkat, sehingga ke depan mereka tidak lagi sekadar menjadi penonton di daerahnya sendiri.