KALIMANTAN TIMUR — Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari serangkaian langkah darurat yang sudah berjalan sepanjang tahun. Sebelumnya, EPA juga telah mengizinkan penjualan bensin dengan campuran etanol hingga 15 persen selama bulan-bulan terpanas, yang biasanya dilarang keras. Logikanya sederhana: mencampur bensin dengan etanol diharapkan bisa menekan harga di pompa bensin.
Namun, konsekuensinya tidak sederhana. Campuran etanol yang lebih tinggi dan nilai Reid Vapor Pressure (RVP) yang lebih besar—ukuran seberapa cepat bahan bakar menguap—memperparah pembentukan ozon di permukaan tanah saat suhu tinggi. Kondisi ini berisiko memicu gangguan pernapasan dan kardiovaskular bagi manusia, terutama di kota-kota besar yang padat penduduk.
Bensin dengan tingkat penguapan tinggi biasanya sengaja dijual hanya pada musim gugur dan dingin. Pada suhu udara yang lebih rendah, penguapan bahan bakar tidak terlalu agresif sehingga dampaknya terhadap polusi udara lebih terkendali. Musim panas dengan suhu ekstrem justru menjadi kombinasi terburuk: bensin yang mudah menguap bertemu dengan panas yang mempercepat reaksi kimia pembentukan ozon.
Untuk itu, dalam kondisi normal, pemerintah federal membatasi penjualan campuran bensin tertentu selama musim panas guna menekan polusi. Kini, dengan adanya keringanan darurat, bensin dengan RVP lebih tinggi mulai masuk ke pasokan konsumen lebih awal dari biasanya.
Selain masalah polusi, campuran etanol yang lebih tinggi juga berpotensi menjadi masalah bagi kendaraan lawas. Mobil-mobil tua yang sistem bahan bakarnya tidak dirancang untuk menangani etanol dalam kadar besar bisa mengalami sejumlah gangguan. Bahkan untuk kendaraan yang sudah mendukung, efisiensi bahan bakar tetap akan turun karena etanol memiliki kepadatan energi lebih rendah dibandingkan bensin murni.
Artinya, pengendara mungkin membayar lebih murah di pompa, tetapi harus menerima jarak tempuh yang lebih pendek per tangki. Dalam jangka panjang, penghematan yang didapat bisa jadi tidak sebanding dengan penurunan performa dan risiko teknis pada mesin.
Dalam rilis resminya, EPA menyebutkan telah memberikan keringanan pada kontrol tingkat negara bagian di Texas, Arizona, dan California yang biasanya berlaku hingga pertengahan September. Keringanan ini diberikan untuk periode maksimal yang diizinkan, dan EPA menyatakan akan terus memperpanjang kebijakan ini sepanjang tahun jika dianggap perlu.
Menariknya, dalam pernyataan yang sama, departemen tersebut juga menyoroti politisi negara bagian di New York dan California yang tidak mengadopsi standar ini. Mereka dinilai mendorong harga BBM lebih tinggi bagi penduduknya sendiri. Padahal, kedua negara bagian itu menaungi kota-kota terbesar di Amerika Serikat, dengan jutaan penduduk yang merasakan dampak buruk kualitas udara jauh lebih akut dibandingkan daerah yang relatif rural.
Kebijakan ini menjadi contoh tarik-menarik antara kebutuhan ekonomi jangka pendek dan perlindungan kesehatan publik yang berkelanjutan. Di tengah tekanan harga energi global, pemerintah AS memilih untuk melonggarkan standar lingkungan, sebuah keputusan yang akan terus dipantau dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. (*)