KALIMANTAN TIMUR — Perseteruan wacana seputar kecerdasan buatan (AI) kembali memanas. Kali ini, Dario Amodei, CEO Anthropic, perusahaan di balik model Claude, melayangkan respons terbuka terhadap kritik investor Gavin Baker yang menilai gaya komunikasinya terlalu fokus pada bahaya AI dan memicu reaksi balik publik, terutama di Amerika Serikat.
Dalam unggahannya di platform X dan podcast All-In, Baker menyebut Amodei telah "kalah argumen" dalam soal regulasi AI. Ia juga mendesak Amodei untuk menjadi advokat yang lebih positif bagi industrinya sendiri, mengingat posisinya kini sebagai pimpinan salah satu perusahaan AI paling berpengaruh di dunia.
Amodei membantah tudingan bahwa tulisannya selama ini "tidak proporsional negatif". Menurutnya, esai panjangnya yang berjudul "Machines of Loving Grace" justru hadir karena ia merasa industri AI gagal memberikan gambaran inspiratif tentang potensi teknologi ini untuk mengubah dunia secara radikal.
"Saya pikir ini pada dasarnya adalah krisis kepercayaan," ujar Amodei. "Orang awam tidak percaya pada perusahaan, pemerintah, atau industri teknologi. Mereka selalu curiga kami sedang menyiapkan cara baru untuk menipu mereka."
Ia menambahkan bahwa krisis ini bukan fenomena baru, melainkan akumulasi kepercayaan yang terkikis selama puluhan tahun. Gelombang penolakan terhadap AI saat ini hanyalah "iterasi terbaru" dari masalah lama tersebut.
Menariknya, Amodei justru setuju dengan satu kritik yang menurutnya paling tepat sasaran. Ia mengakui bahwa perusahaan AI, termasuk Anthropic, belum mampu memenuhi janji besar mereka untuk memberikan manfaat nyata bagi dunia.
"Itu sepenuhnya salah kami, dan saya pikir itulah kritik yang seharusnya Anda sampaikan, bukan soal pesan atau pemasaran," tegas Amodei. Ia pun mengklaim pihaknya sedang berupaya keras untuk memperbaiki hal tersebut.
Soal regulasi, Amodei menolak pandangan Baker yang menganggapnya sebagai "pilihan palsu" antara distribusi AI tanpa aturan atau konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir perusahaan besar.
"Ada semacam cara pandang singkat di Silicon Valley bahwa regulasi sama dengan penangkapan regulasi dan konsentrasi kekuasaan. Saya selalu menganggap itu gambaran yang terlalu sederhana," jelasnya. "Banyak orang di luar gelembung industri teknologi justru melihat regulasi sebagai alat untuk mengekang kekuatan korporasi dan melindungi masyarakat."
Amodei menegaskan bahwa Anthropic selalu menyusun proposal kebijakan secara hati-hati. Tujuannya adalah merancang aturan yang justru memperlambat perusahaan AI skala besar, sambil memberikan keuntungan kompetitif bagi pemain kecil.
Perdebatan ini relevan bagi pengguna teknologi di Indonesia. Saat adopsi AI semakin masif, kepercayaan publik menjadi mata uang yang paling berharga. Kehadiran regulasi yang transparan dan akuntabel, seperti yang disuarakan Amodei, bisa menjadi jembatan antara inovasi dan perlindungan konsumen.
Pernyataan Amodei ini juga menjadi pengingat bahwa di balik gempuran produk AI yang canggih, ada pertanyaan mendasar yang belum terjawab: seberapa besar teknologi ini benar-benar akan memperbaiki hidup kita, dan seberapa besar hanya sekadar janji pemasaran belaka? Jawabannya akan menentukan arah industri ini ke depan.