KALIMANTAN TIMUR — Langkah ini merupakan realisasi kolaborasi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self regulatory organizations (SROs), manajer investasi, bank kustodian, dealer partisipan, hingga bank bulion. Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Samsul Hidayat, menegaskan bahwa kehadiran produk ini bukan sekadar menambah instrumen investasi, melainkan upaya memperkuat rantai ekosistem emas dari hulu ke hilir.
"ETF emas diharapkan menjadi alternatif instrumen investasi baru bagi investor pasar modal Indonesia," ujar Samsul dalam seremoni peluncuran di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (10/8).
Seluruh proses pembentukan ETF emas berlangsung dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Alurnya dimulai dari penyediaan emas fisik sebagai aset dasar, lalu dicatat dalam bentuk electronic gold receipt (EGR) di KSEI sebagai representasi kepemilikan elektronik, hingga akhirnya diperdagangkan dalam bentuk unit penyertaan di BEI.
Integrasi ini dirancang untuk mendukung pengembangan kegiatan usaha bulion atau bank emas yang telah dimulai pemerintah sejak 2023. Dalam ekosistem tersebut, emas tidak hanya menjadi aset simpanan, tetapi bisa terhubung dengan instrumen investasi dan pasar keuangan yang lebih luas.
Lima manajer investasi terlibat dalam peluncuran perdana ini. Berikut rincian produk dan harga penawaran perdananya:
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menyebut peluncuran ini terjadi di tengah tren positif instrumen serupa di pasar global. Data yang dipaparkannya menunjukkan aset kelolaan ETF emas global mencapai US$ 559 miliar pada 2025, dengan total kepemilikan emas sekitar 4.025 ton.
"Ini mencerminkan semakin pentingnya instrumen ini dalam ekosistem investasi global. Jadi, yang kita lakukan hari ini bukan sekadar menambah satu produk," kata Juda.
Ia menambahkan, kepercayaan merupakan faktor fundamental dalam pasar keuangan. Karena itu, pengembangan ETF emas harus disertai penguatan tata kelola, akuntabilitas, transparansi, serta perlindungan investor dan pengawasan yang ketat.
Bagi investor ritel, kehadiran ETF emas membuka akses kepemilikan emas secara elektronik dengan modal yang lebih terjangkau dibanding membeli fisik logam mulia. Produk ini juga menjadi alternatif diversifikasi portofolio di tengah volatilitas pasar saham.
Bagi industri, kolaborasi ini mempercepat pembentukan ekosistem bulion yang utuh. Dengan adanya EGR di KSEI, bank bulion memiliki infrastruktur untuk mencatatkan dan memperdagangkan aset emas secara lebih efisien, sekaligus memperdalam pasar keuangan nasional agar mampu bersaing di tingkat regional.