KALIMANTAN TIMUR — Program pencampuran biomassa (co-firing) di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bukan sekadar soal ketersediaan bahan baku. Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menegaskan keberhasilannya sangat bergantung pada standar kualitas yang konsisten, rantai pasok yang efisien, dan infrastruktur pengolahan yang andal.
PLN EPI bertugas menjamin pasokan energi primer untuk sekitar 200 unit PLTU di 52 lokasi, plus 200 unit PLTG/PLTGU/PLTMG, dan hampir 800 unit PLTD di seluruh Indonesia. Saat ini, sekitar 90 persen pembangkit listrik nasional masih bergantung pada fosil. Biomassa menjadi solusi strategis untuk mengurangi konsumsi energi fosil secara bertahap.
“Kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara untuk mendukung agenda dekarbonisasi,” ujar Hokkop dalam forum Material Handling Innovation for Wood-Based Industries, Senin (27/7).
Sepanjang 2025, realisasi pasokan biomassa mencapai 2,35 juta ton, berkontribusi pada penurunan emisi sekitar 2,72 juta ton CO?e. Angka ini ditargetkan naik menjadi 3,65 juta ton pada 2026 dan 4,07 juta ton pada 2027. Secara kumulatif 2023–2026, PLN EPI telah merealisasikan 4,77 juta ton biomassa.
Hokkop menekankan seluruh biomassa yang digunakan berasal dari residu industri kehutanan, perkebunan, dan pertanian — bukan dari penebangan hutan atau deforestasi. “Kami memanfaatkan residu yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi. Ini menciptakan nilai tambah tanpa mengorbankan kelestarian hutan,” jelasnya.
Pasokan biomassa didominasi bahan berbasis kayu, yaitu sawdust (serbuk gergaji) sebesar 54,6 persen dan woodchip sebesar 22,4 persen. Keduanya telah memenuhi spesifikasi teknis pembangkit, sehingga dapat menggantikan sebagian konsumsi batu bara tanpa mengurangi keandalan operasi PLTU.
Untuk menjawab tantangan kualitas dan distribusi, PLN EPI mengembangkan model Spoke-Hub. Model ini mengintegrasikan titik pengumpulan bahan baku (sub hub), fasilitas produksi (hub), hingga main hub sebagai pusat pengolahan, pencampuran, penyimpanan, dan pengendalian mutu biomassa sebelum dikirim ke pembangkit.
Sistem ini diperkuat dengan Marketplace Biomassa, platform digital yang mempertemukan pemasok dengan kebutuhan biomassa di setiap pembangkit. Saat ini, PLN EPI telah mengoperasikan fasilitas pengolahan di Tasikmalaya dan Ciamis dengan kapasitas masing-masing 10 ton per jam.
Ke depan, perusahaan akan memperluas jaringan hub biomassa ke Lebak, Lamongan, Blora, Cilegon, hingga Suralaya. Hingga 2028, ditargetkan pembangunan 15 Main Hub/Hub Biomassa di berbagai wilayah, baik melalui investasi sendiri maupun kolaborasi dengan mitra strategis.
Melalui penguatan standarisasi, pembangunan infrastruktur, dan digitalisasi rantai pasok, PLN EPI terus membangun ekosistem bioenergi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir — memastikan transisi energi berjalan tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik nasional.