KALIMANTAN TIMUR — Mercedes-Benz memperluas jajaran C-Class ke era elektrifikasi di tengah pasar mobil listrik global yang masih fluktuatif. Alih-alih menggunakan platform versi bensin, C-Class EV ini dibangun di atas arsitektur MB.EA 800 volt yang sama dengan saudaranya, GLC crossover listrik. Hasilnya, mobil ini terasa seperti C-Class klasik yang aman dan nyaman, hanya saja tanpa suara mesin dan dengan tarikan yang jauh lebih brutal.
Di area trek kecil di pinggiran Helsinki, kami diajak mengikuti instruktur profesional untuk benar-benar menguji kelincahan sasis. Varian C400 4Matic yang kami kendarai dibekali dua motor sinkron permanen yang menghasilkan tenaga 483 hp dan torsi 590 lb-ft. Akselerasi 0-60 mph (0-96 km/jam) hanya 3,9 detik — angka yang membuat waspada di negara yang terkenal dengan denda tilang hingga Rp 2 miliar berdasarkan penghasilan pelanggar.
Ban mobil ini mencicit kencang saat bermanuver di tikungan. Tapi jangan khawatir, di jalan raya umum, pengemudi harus ekstra hati-hati karena batas kecepatan berubah-ubah dan penegakan hukum sangat ketat. Seperti kata para kru Mercedes, "jaga kecepatan sesuai rambu."
Salah satu keunggulan teknis utama ada pada baterai lithium-ion-nya. Dengan dukungan pengisian DC hingga 330 kW, baterai bisa diisi dari 10 persen ke 80 persen hanya dalam 22 menit. Lebih impresif lagi, dalam waktu 10 menit, mobil bisa menambah jarak tempuh hingga 200 mil (sekitar 321 km). Angka ini menjawab salah satu kekhawatiran utama pengguna mobil listrik soal waktu pengisian daya.
Dari segi tampang, C-Class EV ini terlihat lebih menggembung dibanding pendahulunya yang lebih ramping. Mercedes menyebutnya sebagai "grille ikonik baru", meski menurut hemat kami, istilah "baru" dan "ikonik" agak sulit disatukan dalam satu kalimat. Namun, elemen kaca buram pada grille dan opsi pencahayaan dengan 1.050 lampu LED individual yang bisa memainkan animasi saat mengisi daya atau membuka bagasi cukup unik dan menarik perhatian.
Sayangnya, di balik kemewahan yang hampir sempurna, ada satu hal yang mengganggu: fitur AI generatif pada MBUX Virtual Assistant terbaru. Menurut penulis yang menjajalnya, asisten ini terlalu aktif dan bisa membuat siapa pun, bahkan pendukung AI sekalipun, merasa terganggu. "Seperti produk lain dengan basis penggemar kuat, Mercedes memaksakan AI generatif di sini," tulis sang jurnalis dalam laporannya. Ini menjadi noda kecil di tengah kualitas kendaraan yang secara fundamental sangat baik.
CEO Mercedes-Benz Group, Ola Källenius, menegaskan bahwa elektrifikasi massal masih butuh waktu. "Untuk 150 pasar yang kami layani, tidak semuanya siap menuju nol emisi dalam waktu bersamaan. Kami harus melayani dua jalur—bensin dan listrik—setidaknya untuk 10 tahun ke depan, jika tidak lebih lama," ujarnya. Artinya, bagi konsumen yang belum siap beralih ke listrik, generasi W206 C-Class bermesin bensin akan tetap dijual dan segera mendapat ubahan gaya agar mirip dengan versi EV ini.