Meta Kenakan Biaya Langganan Rp 330 Ribu per Bulan untuk Fitur Kacamata Pintar, Termasuk Conversation Focus

Penulis: Zaki Mubarak  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 02:56:01 WIB
Meta memberlakukan biaya langganan Rp 330 ribu per bulan untuk fitur Conversation Focus pada kacamata pintar.

KALIMANTAN TIMUR — Kebijakan anyar ini menjadi bagian dari strategi Meta yang mulai mengunci sejumlah fitur di balik layanan berlangganan. Conversation Focus, yang dirancang untuk memperjelas suara lawan bicara di lingkungan bising, ternyata berjalan sepenuhnya di perangkat keras kacamata — bukan melalui server cloud. Hal ini memicu pertanyaan soal justifikasi biaya langganan yang dibebankan ke pengguna.

Apa Itu Conversation Focus dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Conversation Focus adalah fitur yang memanfaatkan mikrofon beam-forming dan pemrosesan canggih di dalam kacamata untuk menangkap dan memperkuat suara orang di sekitar pengguna. Fungsinya mirip dengan mode transparansi atau alat bantu dengar dasar, terutama berguna di tempat ramai seperti kafe atau pameran.

Karena semua pemrosesan dilakukan secara lokal di perangkat, fitur ini tidak memerlukan koneksi internet atau biaya operasional server. The Verge, yang pertama kali melaporkan perubahan ini, mencatat bahwa tidak ada alasan teknis yang jelas mengapa Meta perlu membatasi penggunaannya.

Skema Berlangganan: 3 Jam Gratis, 15 Jam Berbayar

Meta One Premium, yang diumumkan pada Mei lalu, adalah paket berlangganan yang memberikan akses ke fitur tambahan di berbagai produk Meta — mulai dari Instagram, Facebook, WhatsApp, hingga AI pada kacamata pintar. Untuk Conversation Focus, pengguna gratis hanya mendapat jatah 3 jam per bulan. Setelah batas itu tercapai, fitur tidak bisa digunakan hingga bulan berikutnya.

Jika membayar 20 dolar AS per bulan, jatah pemakaian naik menjadi 15 jam. Namun tetap ada batasan: setelah kuota habis, fitur tidak aktif hingga siklus bulanan berikutnya. Sistem ini mirip dengan paket langganan AI modern yang membatasi jumlah interaksi atau token.

Mengapa Kebijakan Ini Dipertanyakan?

Keanehan utama terletak pada kenyataan bahwa Conversation Focus berjalan sepenuhnya di perangkat keras kacamata. Tidak ada data yang dikirim ke server Meta, tidak ada biaya komputasi awan yang harus ditanggung perusahaan. Dengan kata lain, fitur ini sudah "dibeli" oleh pengguna saat membeli kacamata — namun akses penuhnya justru dikunci di balik langganan.

Hingga berita ini diturunkan, Meta belum memberikan pernyataan resmi mengenai alasan di balik pembatasan ini. Langkah ini juga muncul tidak lama setelah Meta kedapatan menyematkan kemampuan pengenalan wajah (facial recognition) pada kacamatanya, meskipun perusahaan menyatakan tidak berencana mengaktifkan fitur tersebut.

Dampak bagi Pengguna di Indonesia

Kacamata pintar Ray-Ban Meta belum resmi dipasarkan di Indonesia, sehingga kebijakan ini belum berdampak langsung pada konsumen lokal. Namun, pola langganan berbayar untuk fitur yang berjalan di perangkat keras patut dicermati. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin pabrikan lain akan mengikuti jejak serupa — menjual perangkat dengan fitur yang sengaja "dikunci" untuk kemudian dibuka dengan biaya bulanan.

Bagi pengguna internasional yang sudah membeli kacamata ini, keputusan Meta menjadi pengingat bahwa kepemilikan perangkat tidak lagi menjamin akses penuh ke semua kemampuannya. Conversation Focus hanyalah contoh pertama dari apa yang mungkin menjadi standar baru di industri wearable.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: 9to5google.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top