MAHAKAM ULU — Wakil Bupati Mahulu Suhuk menegaskan bahwa tarif yang dirumuskan bukan sekadar instrumen untuk menarik pungutan dari warga. Hasil kajian ini, kata dia, justru menjadi jaminan agar layanan energi surya bisa bertahan lama dan tidak mati setelah beberapa tahun beroperasi.
"Bagi kampung-kampung yang belum sepenuhnya terjangkau oleh jaringan listrik konvensional, PLTS menjadi salah satu solusi mendukung pemerataan akses energi serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedalaman," ujar Suhuk di Mahulu, Sabtu.
Saat ini, sebagian kampung di Mahulu sudah menikmati listrik dari PLTS komunal atau terpusat. Namun, masih ada belasan kampung yang sama sekali belum terlayani oleh PLN. Pemerintah daerah pun berupaya memperluas jangkauan PLTS ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau jaringan konvensional tersebut.
Menurut Suhuk, mekanisme pembiayaan operasional dan pemeliharaan harus jelas, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan. Tanpa sistem pengelolaan yang baik, aset daerah senilai miliaran rupiah berisiko terbengkalai.
Pemkab Mahulu menggelar diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion) bertajuk "Laporan Pendahuluan Penyusunan Rumusan Tarif Layanan Energi Listrik Berbasis PLTS" pada Kamis (11/6) lalu. Forum ini menghadirkan para pemangku kepentingan untuk membahas besaran tarif yang wajar bagi masyarakat sekaligus menutup biaya perawatan.
Hasil rumusan nantinya diharapkan tidak hanya menghasilkan angka tarif, tetapi juga kebijakan yang berpihak pada warga. "Pemkab Mahulu memiliki komitmen kuat dalam mewujudkan pembangunan daerah agar lebih maju, merata, dan berkelanjutan sebagaimana yang menjadi cita-cita bersama dalam membangun daerah," kata Suhuk.
Ia menjelaskan, kebijakan yang dihasilkan juga harus melindungi aset daerah yang telah dibangun dengan investasi cukup besar. Tata kelola layanan energi yang profesional, transparan, dan akuntabel menjadi syarat mutlak agar manfaat PLTS bisa terus dirasakan dalam jangka panjang.
Pemerintah daerah berharap kajian yang masih berproses ini mampu menciptakan keseimbangan antara keterjangkauan tarif bagi masyarakat dan keberlanjutan operasional. Dengan begitu, akses terhadap listrik bersih di pedalaman Mahulu tidak lagi menjadi impian.