Pencarian

Tiga Local Heroes Kalimantan Timur: Polisi Penanam Mangrove, Dayak Penjaga Hutan, dan Pemulung Harapan dari Sampah

Kamis, 18 Juni 2026 • 21:37:31 WIB
Tiga Local Heroes Kalimantan Timur: Polisi Penanam Mangrove, Dayak Penjaga Hutan, dan Pemulung Harapan dari Sampah
Yuliana Wetuq, perempuan Dayak, menjaga kelestarian Hutan Lindung Wehea di Kutai Timur sejak 2008.

SANGATTA — Di Kalimantan Timur, pahlawan tidak selalu berseragam dinas atau duduk di ruang rapat. Mereka adalah warga biasa yang memilih bertahan di barisan terdepan menjaga lingkungan, dari hutan adat hingga pesisir yang terancam abrasi.

Kisah pertama datang dari Yuliana Wetuq, perempuan Dayak yang menjadi garda terdepan pelestarian Hutan Lindung Wehea di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur. Sejak 2008, ia bergabung dengan Petkuq Meheuy—pasukan penjaga hutan adat bentukan masyarakat Dayak Wehea. Baginya, pepohonan bukan sekadar sumber kayu, melainkan identitas dan kehidupan masyarakat adat. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu habitat penting bagi orangutan dan satwa endemik Kalimantan lainnya.

Polisi yang Memilih Bibit Mangrove Ketimbang Senjata

Lain lagi kisah Bripka Taufik Ismail. Polisi yang bertugas di Balikpapan ini memilih menghabiskan waktu liburnya dengan membibitkan dan menanam mangrove di pesisir. Ia tidak hanya bergerak di Balikpapan, tetapi juga menjangkau Penajam Paser Utara, Paser, Samarinda, hingga Kutai Kartanegara.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Timur mencatat, kiprahnya mengantarkan Taufik masuk nominasi Penghargaan Kalpataru 2024 kategori Pengabdi Lingkungan. Ketua Pokja Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Kaltim, Tutik Rahayuningsih, menegaskan bahwa kepedulian Taufik bisa menjadi teladan bagi banyak pihak.

"Pak Taufik Ismail ini dapat menjadi contoh yang baik, kepedulian dan kesadaran untuk menjaga lingkungan harus dilakukan oleh semua pihak," ujarnya dikutip dari laman resmi DLH Kaltim.

Mangrove yang ditanam Taufik bukan sekadar tanaman pesisir. Ekosistem ini melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi tempat berkembang biak biota laut, dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Setiap bibit yang ditanam hari ini adalah perlindungan bagi generasi mendatang.

Dari Tumpukan Sampah, Ia Bangun Pusat Pelatihan Kompos

Di Kutai Timur, Andika Yohantoro justru melihat peluang dari tumpukan sampah yang selama ini dianggap kotor dan menyebalkan. Ia memulai gerakan karena prihatin melihat kebiasaan warga membuang sampah sembarangan di lingkungan tempat tinggalnya.

Alih-alih mengeluh, Andika mengajak masyarakat memilah sampah dari rumah, membangun sistem bank sampah, hingga mengembangkan Composting Training Center (CTC) untuk mengolah limbah organik menjadi kompos. Perjalanannya tidak mudah. Penolakan dan keraguan datang silih berganti. Namun sedikit demi sedikit, warga mulai terlibat. Anak-anak belajar bahwa sampah memiliki nilai, orang dewasa memahami bahwa lingkungan bersih adalah investasi bersama.

Ketiga kisah ini menjadi pengingat bahwa kemajuan Kalimantan Timur tidak hanya diukur dari gedung megah Ibu Kota Nusantara. Kualitas manusianya—yang memilih peduli pada hutan, pesisir, dan sampah—adalah warisan yang lebih abadi.

Bagikan
Sumber: goodnewsfromindonesia.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks