Karhutla Samarinda Capai 670,23 Hektare dalam 281 Kejadian, Fraksi PKS DPRD Minta Pencegahan Diperkuat

Penulis: Zaki Mubarak  •  Kamis, 22 Oktober 2026 | 16:01:02 WIB
Petugas BPBD Samarinda memadamkan titik api karhutla di kawasan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan.

SAMARINDA — Luas lahan terbakar di Samarinda terus bertambah seiring musim kemarau yang belum usai. BPBD Samarinda mencatat 281 kejadian karhutla dengan total area terdampak 670,23 hektare hingga pertengahan Oktober 2026.

Angka itu naik dari laporan awal bulan. Pada 4 Oktober 2026, luas kebakaran tercatat 608,18 hektare. Tiga hari berselang, luasan bertambah menjadi 643,27 hektare dengan 259 kejadian.

Pulau Atas dan Pelita 8 Jadi Titik Berulang

Sejumlah kawasan terdampak meliputi Kecamatan Sambutan, Palaran, dan Samarinda Utara. Di Sambutan, kawasan Pulau Atas dan Pelita 8 menjadi perhatian karena kebakaran berulang dan medan yang menyulitkan petugas.

Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Suwarso menjelaskan penanganan di Pulau Atas terkendala belukar kering dan akses lokasi yang terbatas. Kondisi lapisan bawah tanah juga berpotensi membuat api bertahan lebih lama.

Petugas menerapkan sistem estafet mobil tangki untuk memasok air ke titik kebakaran yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

4.664 Kasus ISPA Tercatat Sepanjang Oktober

Dampak karhutla merembet ke sektor kesehatan. Dinas Kesehatan Samarinda mencatat 4.664 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama Oktober 2026 hingga laporan pertengahan bulan.

Pemkot Samarinda menegaskan angka itu merupakan jumlah kasus ISPA yang tercatat, tidak serta-merta seluruhnya disebabkan langsung oleh asap karhutla.

Di tengah memburuknya kondisi udara, Pemkot Samarinda menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi sekolah yang terdampak asap. Pemerintah kota juga memperkuat koordinasi dengan TNI Angkatan Udara untuk pemantauan titik panas.

Fraksi PKS: Peralatan hingga Anggaran Perlu Ditambah

Ketua Fraksi PKS DPRD Samarinda Arif Kurniawan menilai penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman. Ia meminta pemerintah memperkuat pencegahan agar kebakaran tidak berulang.

"Penanganan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah, apalagi jika kebakaran terus terjadi dan wilayah terdampaknya semakin luas. Kita membutuhkan dukungan peralatan, personel, anggaran, serta koordinasi yang lebih kuat agar upaya pemadaman dan pencegahan bisa berjalan maksimal," kata Arif.

Menurut Arif, kesiapan personel, peralatan, anggaran, dan koordinasi antarpihak menjadi penopang utama upaya penanganan. Tanpa itu, wilayah terdampak berpotensi meluas dan risiko bagi warga meningkat.

Pemetaan Kawasan Rawan Diminta Dipercepat

Arif mendorong strategi pencegahan berkelanjutan, mulai dari pemetaan kawasan rawan, penyediaan sumber air, hingga peningkatan kemampuan personel. Ketiganya dinilai penting agar kebakaran bisa dikendalikan lebih cepat saat muncul.

Ia berharap penguatan sarana dan kesiapan petugas mampu membendung api sebelum merambat ke kawasan permukiman maupun mengganggu aktivitas warga.

Hingga laporan ini diturunkan, BPBD Samarinda masih bersiaga di sejumlah titik rawan. Penambahan luas terbakar menjadi 670,23 hektare menandakan tekanan karhutla belum surut menjelang akhir musim kemarau.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: komparasinews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top