Starbucks Tutup 250 Gerai di Amerika Utara, 900 Karyawan Kena PHK

Penulis: Uki Damayanti  •  Sabtu, 26 September 2026 | 08:36:01 WIB
Starbucks menutup sekitar 250 gerai tidak menguntungkan di Amerika Utara.

KALIMANTAN TIMUR — Starbucks menutup sekitar 250 gerai yang dinilai tidak menguntungkan di seluruh Amerika Utara pekan ini, memicu pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 900 posisi. Penutupan ini merupakan gelombang pengurangan gerai kedua sejak Brian Niccol menjabat CEO pada September 2024. Langkah tersebut menimbulkan biaya restrukturisasi langsung sekitar USD300 juta.

Penutupan gerai Starbucks kali ini menandai babak baru efisiensi biaya yang dijalankan perusahaan di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol. Rencana restrukturisasi besar-besaran telah disetujui dewan komisaris pada September 2025 melalui strategi bertajuk "Back to Starbucks". Total biaya restrukturisasi diperkirakan mencapai USD1 miliar atau sekitar Rp15 triliun, dengan 90 persen dialokasikan khusus untuk operasional Amerika Utara.

Rincian Biaya Restrukturisasi

Alokasi biaya restrukturisasi mencakup USD150 juta untuk pesangon dan pemutusan hubungan kerja karyawan. Selain itu, perusahaan menyiapkan USD400 juta untuk pelepasan dan penurunan nilai aset gerai atau store assets impairment.

Biaya langsung dari penutupan 250 gerai kali ini saja mencapai sekitar USD300 juta. Angka tersebut menjadi bagian dari total estimasi USD1 miliar yang telah disiapkan perusahaan untuk merombak operasionalnya secara menyeluruh.

Siapa yang Terdampak

Gelombang PHK menyasar sekitar 900 posisi, mencakup staf operasional hingga ratusan pekerja tingkat korporat. Penutupan gerai dan pemutusan hubungan kerja ini menyentuh langsung jaringan kedai Starbucks di Amerika Utara yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.

Penutupan 250 gerai ini menjadi pengurangan gerai kedua sejak Brian Niccol masuk sebagai CEO pada September 2024. Artinya, dalam kurun waktu sekitar satu tahun, perusahaan telah dua kali melakukan pemangkasan jaringan secara signifikan.

Tekanan di Balik Keputusan

Sejumlah gerai yang ditutup dinilai tidak menguntungkan dan membebani kinerja keuangan perusahaan. Strategi "Back to Starbucks" yang disetujui dewan komisaris pada September 2025 menjadi dasar hukum dan operasional bagi langkah efisiensi ini.

Dengan 90 persen biaya restrukturisasi diarahkan ke operasional Amerika Utara, fokus utama pembenahan memang berada di pasar asal perusahaan. Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa tekanan terbesar yang dihadapi Starbucks saat ini berasal dari pasar domestiknya sendiri.

Restrukturisasi ini menjadi ujian bagi kepemimpinan Brian Niccol dalam membalikkan kinerja perusahaan. Publik dan investor akan mencermati apakah pemangkasan 250 gerai dan 900 posisi ini cukup untuk memulihkan efisiensi, atau justru menjadi awal dari gelombang penutupan berikutnya.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top