Pimpinan Festival Film Eropa Lawan Tekanan Politik: "Kami Tidak Menilai Seniman dari Paspor Mereka"

Penulis: Uki Damayanti  •  Senin, 07 September 2026 | 19:21:31 WIB
Pimpinan festival film Eropa menegaskan komitmennya menilai seniman berdasarkan karya, bukan kewarganegaraan.

KALIMANTAN TIMUR — Herszberg menyuarakan kekhawatiran yang dirasakan banyak rekannya. "Kami semakin merasa tertekan dari berbagai kelompok. Mereka bisa saja politisi, atau orang-orang yang tidak setuju dengan representasi negara tertentu," ujarnya.

"Kami tidak menilai seniman dari paspor mereka, kami menilai mereka dari karya-karyanya," tegas Herszberg.

Kutipan Kunci: "Kami Harus Dilindungi"

Sebagai pimpinan Séries Mania, festival gratis dengan 1.500 kursi, Herszberg mengakui tidak mungkin mengontrol siapa yang hadir. "Kami harus dilindungi, dan kami tetap harus berjuang untuk para seniman," katanya dalam panel bertajuk "Easy to Criticize, Impossible to Replace: Rethinking the Festival" yang dimoderatori Rajendra Roy, kurator utama film di MoMA.

Cameron Bailey, CEO Toronto Film Festival yang tahun ini meluncurkan pasar resmi pertamanya, menegaskan sentimen serupa. "Pembuat film bukanlah negara mereka, dan tidak seharusnya diperlakukan seperti itu oleh siapa pun," kata Bailey, yang mengenang bergabung dengan TIFF sebagai programmer pada 1990, "pada saat festival terasa seperti ruang yang sepenuhnya bebas dan terbuka."

Membangun Audiens Muda dan Pasar Baru

Bailey menyoroti program pemuda TIFF bernama Next Wave yang kini berusia 15 tahun sebagai investasi jangka panjang. Program tersebut terbukti berhasil, dengan film "'Obsession' menjadi salah satu penjualan terbesar di festival film dalam waktu yang sangat lama," katanya. Mengenai pasar baru TIFF, Bailey menyebutnya sebagai bagian penting ekosistem—"pupuk bagi ekosistem, yang memberi makan" pasokan film ambisius.

Tricia Tuttle, direktur festival Berlinale yang mencatat 450.000 penonton tahun lalu, menempatkan pengembangan audiens sebagai pusat solusi. "Jawaban saya untuk semua tantangan ini adalah benar-benar memikirkan penonton," kata Tuttle, yang festivalnya sempat berada di pusat badai politik. Menjangkau orang yang belum menjadi penggemar film layar lebar sama pentingnya dengan melayani mereka yang sudah ada.

Skala Global dan Tantangan Media

Iris Knobloch, presiden Festival Cannes, memaparkan skala perhelatannya yang luar biasa: 40.000 peserta terakreditasi dari 140 negara, dengan lebih dari 4.000 jurnalis hadir. "Bagi saya, itulah cahaya yang menerangi film dan bakat di seluruh dunia," kata Knobloch.

Sementara itu, Faisal Baltyuor, CEO Red Sea Film Foundation, mengungkapkan bahwa edisi terakhir festivalnya menjual habis semua pemutaran. "Kami punya banyak talenta kreatif yang membutuhkan dorongan untuk naik ke panggung internasional," ujarnya, mencatat 11 film yang didukung yayasannya tampil di Venesia dan 8 film menuju Toronto.

Peter Debruge, kini direktur South by Southwest Film & TV Festival setelah 20 tahun di Variety, membela peran film studio sebagai pintu masuk penemuan. "Film-film level studio adalah daya tarik yang membawa perhatian, pers, dan penonton pada karya-karya baru," kata Debruge.

Menjaga Ruang Kritik dan Akses Publik

Maialen Beloki, wakil direktur Festival San Sebastián, menyoroti menyusutnya sumber daya media sebagai masalah struktural. "Setiap tahun, media mengirim semakin sedikit kritikus ke festival," katanya. Beloki juga mengingatkan biaya dari perlombaan memberitakan berita secara daring. "Kita kehilangan kapasitas untuk berbicara tentang film dengan waktu dan rasa hormat yang cukup."

Shivendra Singh Dungarpur, direktur Festival MAMI di Mumbai, menekankan komitmennya pada akses publik. Pemutaran film restorasi yang ia selenggarakan rutin menarik 1.000 hingga 1.400 orang, dan semua acara MAMI gratis. "Saya percaya festival film harus untuk semua orang," kata Dungarpur, yang juga menjalankan inisiatif MAMI Independent bersama jaringan bioskop besar untuk menghadirkan film independen ke berbagai kota di India.

Mickaël Marin dari Festival Film Animasi Annecy mengatakan sejak diangkat pada 2018, ia membuka festival untuk publik umum melalui ruang pameran permanen yang diluncurkan Juni tahun lalu. "Kami punya komunitas animasi dunia yang datang ke Annecy, dari sekolah, mahasiswa, hingga platform," katanya. Magdalene Reddy, direktur Durban FilmMart Institute, menyebut tantangan utama di Afrika bukan menemukan penonton, tetapi menjangkau mereka di tengah keterbatasan infrastruktur dan pendanaan.

Diskusi ini menegaskan bahwa festival film global kini berada di garis depan pertarungan menjaga independensi kuratorial, sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan audiens yang berubah dan tekanan politik yang semakin kompleks.

Reporter: Uki Damayanti
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top