SAMARINDA — Masyarakat di sejumlah kawasan Samarinda sempat menyaksikan rintik hujan di tengah teriknya musim kemarau. Hujan yang muncul sekitar pukul 11.10 Wita itu tercatat mengguyur Samarinda Seberang, Palaran, dan sebagian wilayah Loa Janan.
Namun, guyuran tersebut tidak bertahan lama. Awan penyebab hujan pecah dan menghilang tak lama kemudian, membuat wilayah lain di Kota Tepian tetap kering dan panas.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan fenomena ini merupakan karakteristik khas musim kemarau. Menurutnya, potensi hujan memang masih ada, tetapi sifatnya sangat berbeda dengan musim penghujan.
“Di bulan kemarau itu sebenarnya masih ada potensi hujan, tetapi biasanya hujan-hujannya bersifat lokal, cepat dan sebentar,” kata Riza.
Munculnya hujan di tengah kemarau sempat dikaitkan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang sebelumnya dilakukan untuk mengatasi kekeringan di Kalimantan Timur. Namun, BMKG dengan tegas membantah anggapan tersebut.
Riza memastikan tidak ada kegiatan penyemaian awan yang sedang berlangsung saat hujan turun. Kegiatan OMC di Kalimantan Timur sendiri telah dinyatakan selesai.
“Kalau sekarang kita belum ada kegiatan OMC di Kalimantan Timur, kita sudah selesai kegiatannya kemarin,” jelasnya.
Pertumbuhan awan yang terjadi, lanjut Riza, berlangsung secara alamiah dan sporadis. Hal ini yang menyebabkan hujan hanya turun di titik-titik tertentu atau bersifat spot-spot.
Akibat kejadian ini, kondisi cuaca di Samarinda terpantau tidak seragam. Sebagian wilayah sempat merasakan hujan, sementara kawasan lain masih terik tanpa tetesan air.
Riza menambahkan, pola curah hujan seperti ini menjadi pembeda yang jelas antara musim kemarau dan musim penghujan. Saat musim hujan tiba, pertumbuhan awan umumnya lebih luas sehingga wilayah yang diguyur juga lebih besar.
“Kalau musim hujan, hujannya areanya luas dan intensitasnya juga lumayan. Di musim kemarau, hujannya areanya kecil dan kadang durasinya singkat,” pungkasnya.
Dengan karakteristik tersebut, kehadiran hujan singkat ini belum bisa dijadikan penanda bahwa musim kemarau telah berakhir. Peluang hujan lokal tetap terbuka, namun kondisi kering masih akan mendominasi Samarinda untuk sementara waktu.