PENAJAM — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU bersama Komite Ekonomi Kreatif mematangkan persiapan PPU Fest 2026 yang mengusung konsep pesta rakyat. Ajang dua hari itu akan dimanfaatkan sebagai ruang promosi produk kriya, fesyen, dan UMKM lokal.
Kepala Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar PPU, Yunias Yudhistira Arlianta, mengatakan penyelenggaraan tahun ini sengaja disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah. Pemerintah tidak berani menggelar acara yang terlalu besar.
“Dengan kondisi fiskal sekarang ini kami tidak berani menggelar acara semewah-mewahnya. Jadi konsepnya dibuat dari masyarakat untuk masyarakat, semacam pesta rakyat,” ujar Yunias, Rabu (2/9).
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan postur fiskal yang terbatas. Alih-alih mendatangkan pengisi acara dari luar daerah, panggung utama festival diberikan kepada talenta lokal.
Yunias menyebut sejumlah band lokal serta kelompok seni budaya dari sanggar daerah akan mengisi rangkaian acara. Dengan begitu, festival menjadi kesempatan bagi seniman PPU untuk menunjukkan karya kepada masyarakat.
“Pengisi acaranya dari PPU semua, termasuk band lokal dan seniman. Kami tidak mendatangkan artis ibu kota,” katanya.
Pemerintah daerah menganggarkan sekitar Rp200 juta untuk pelaksanaan festival tersebut. Nominal ini digunakan untuk kebutuhan panggung, teknis operasional, serta penyediaan tenant bagi pelaku ekonomi kreatif.
Selain hiburan, pengunjung bakal menemukan lapak yang menampilkan produk kriya, fesyen, hingga aneka produk UMKM khas PPU. Para pelaku usaha kecil ini sekaligus mendapat ruang memperkenalkan produknya ke masyarakat luas.
“Nanti akan disediakan beberapa tenant seperti kriya, fesyen serta produk UMKM atau kreatif lainnya,” jelas Yunias.
Persiapan teknis bakal dimatangkan dalam dua pekan ke depan. Disbudpar memperkuat koordinasi dengan Komite Ekraf agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana.
PPU Fest 2026 diharapkan menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, pelaku UMKM, dan pekerja seni lokal. Ajang ini juga diharapkan menjaga geliat ekonomi kreatif di tengah keterbatasan fiskal daerah.
Meski konsepnya lebih sederhana, pemerintah optimistis anggaran yang tersedia tetap memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama bagi pelaku usaha mikro yang selama ini mengandalkan event semacam ini untuk memasarkan produk.