KALIMANTAN TIMUR — JAKARTA - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kelapa sawit disebut memiliki peluang besar untuk menembus pasar global di tengah gencarnya program hilirisasi yang digalakkan pemerintah. Dari hulu ke hilir, komoditas ini tak lagi sekadar dijual dalam bentuk crude palm oil (CPO), melainkan telah bertransformasi menjadi ratusan produk turunan bernilai tambah tinggi.
Eisha Maghfiruha Rachbini, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menilai pengembangan produk turunan sawit berorientasi ekspor menjadi strategi kunci mewujudkan industri sawit nasional yang berkelanjutan. Menurutnya, potensi di sektor ini sangat besar, mulai dari bidang pangan (oleofood), bahan kimia (oleochemical), hingga bioenergi.
Hilirisasi kelapa sawit yang sudah berjalan selama ini terbukti memberikan efek berantai bagi perekonomian nasional. Eisha menyebutkan, dampaknya terasa langsung di tingkat petani melalui peningkatan harga tandan buah segar (TBS), perluasan lapangan kerja, hingga penciptaan efek ekonomi berantai yang lebih luas.
Yang lebih menarik, nilai tambah yang dihasilkan dari program ini sangat signifikan. Secara umum, hilirisasi sawit mampu meningkatkan nilai ekonomi produk antara tiga hingga 10 kali lipat. Bahkan untuk produk bernilai tinggi seperti vitamin E dan oleokimia tertentu, nilai tambahnya bisa mencapai lebih dari 30 kali lipat.
Eisha menekankan pentingnya keberanian pelaku UMKM untuk masuk ke pasar internasional. Ia menyoroti kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor nasional yang masih rendah, yakni sekitar 15 persen dan tidak berkembang. Padahal, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia.
"Potensi UMKM berbasis kelapa sawit sangat besar. Ke depan perlu ditingkatkan UMKM yang mampu memberikan nilai tambah dari produk atau komoditas kelapa sawit," ujarnya di Jakarta, Senin (24/8).
Keterlibatan UMKM dalam rantai pasok global dinilai akan mendorong transformasi usaha secara menyeluruh. Ketika berhadapan dengan standar internasional, pelaku usaha akan dipaksa lebih efisien dalam produksi dan meningkatkan kualitas produknya.
"Karena ketika UMKM masuk pasar global baik menjadi eksportir atau pemasok rantai nilai global maka akan berproduksi dengan standar dan kualifikasi pasar global. Hal itu akan mendorong UMKM untuk lebih efisien dalam produksi dan mendorong mereka naik kelas," papar Eisha.
Meski peluangnya terbuka lebar, Eisha mengingatkan bahwa tantangan menjadi eksportir sangat besar bagi UMKM. Hambatan masuk pasar global cukup tinggi, terutama di tengah keterbatasan kapasitas finansial dan produksi yang dimiliki pelaku usaha kecil.
Ia pun mendorong pemerintah untuk memberikan pendampingan nyata, bukan sekadar imbauan. Dukungan yang dimaksud mencakup penguatan kapasitas keuangan, pemberian insentif, hingga bantuan teknis (technical assistance) untuk mendorong produktivitas dan menurunkan biaya produksi.
Selama ini, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong pengembangan UMKM berbasis kelapa sawit yang berorientasi ekspor. Eisha menambahkan, pemerintah dapat memperkuat dukungan melalui pemetaan pasar potensial, pencarian calon pembeli (potential buyer), serta memfasilitasi business matching antara pelaku UMKM dengan mitra usaha di pasar global.
"Perwakilan Indonesia di luar negeri, atase perdagangan, dan ITPC perlu lebih aktif melakukan pemetaan potensi pasar bagi UMKM ekspor," pungkasnya.
Dengan dukungan yang tepat, hilirisasi sawit bukan hanya menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga tangga bagi UMKM Indonesia untuk naik kelas dan bersaing di kancah internasional.