KALIMANTAN TIMUR — Kehidupan influencer di media sosial kerap menampilkan kesempurnaan: popularitas, gaya hidup mewah, dan perhatian dari ribuan pengikut. Namun di balik unggahan yang tampak menarik, tersimpan tekanan, persaingan, bahkan sisi gelap yang jarang terlihat publik. Sejumlah film mengangkat realitas ini melalui fiksi maupun dokumenter dengan sudut pandang yang berbeda.
Film Following menghadirkan kisah thriller misteri dari Korea Selatan. Koo Jung-tae, seorang agen real estat, memiliki kebiasaan mengintip kehidupan kliennya. Ketertarikannya pada Han So-ra, influencer yang menampilkan hidup sempurna, berubah menjadi bahaya saat ia diam-diam memasuki apartemen sang influencer. Situasi makin rumit ketika seseorang yang mengetahui aksinya mulai mengancam Jung-tae.
Sementara itu, Not Okay mengikuti Danni Sanders, perempuan muda yang haus perhatian. Demi membangun citra menarik, Danni berpura-pura bepergian ke Paris. Kebohongannya meledak setelah sebuah insiden tragis terjadi di kota tersebut, dan ia mengaku sebagai penyintas untuk meraih simpati publik. Popularitas yang ia inginkan akhirnya datang, tetapi konsekuensi kebohongan semakin sulit ditutupi.
Film Sick of Myself menampilkan Signe dan Thomas, pasangan yang hubungannya dipenuhi persaingan. Ketika Thomas mulai dikenal sebagai seniman kontemporer, Signe merasa tersisih dan mengambil tindakan ekstrem demi merebut kembali perhatian. Keinginannya menjadi pusat perhatian membuatnya melakukan hal-hal berlebihan yang mengubah hidupnya drastis.
Ingrid Goes West berfokus pada Ingrid Thorburn, perempuan dengan kebiasaan obsesif terhadap media sosial. Ia sering menganggap tanda suka sebagai bentuk hubungan yang bermakna, sebuah pandangan yang membawanya pada perilaku berbahaya.
Fake Famous adalah dokumenter yang mengeksplorasi bagaimana popularitas bisa dibangun secara artifisial. Film ini mengikuti tiga orang—seorang aktris, desainer fesyen, dan asisten real estat—yang mencoba menjadi influencer dengan membeli pengikut palsu dan menggunakan bot. Eksperimen ini memperlihatkan bahwa jumlah pengikut besar tidak selalu mencerminkan popularitas organik.
Dokumenter Jawline mengikuti Austyn Tester, remaja 16 tahun yang populer lewat siaran langsung. Ia memiliki banyak penggemar perempuan muda dan berharap ketenaran digitalnya membawa kehidupan lebih baik dari lingkungan pedesaannya di Tennessee. Film ini menunjukkan tantangan anak muda mengubah ketenaran internet menjadi peluang nyata.
Film Influencer mengikuti Madison yang sedang berlibur sendirian di Thailand. Di balik unggahan liburan yang menyenangkan, Madison sebenarnya kesepian setelah kekasihnya membatalkan perjalanan. Pertemuannya dengan CW, perempuan yang tampak bebas, berubah menjadi hubungan berbahaya ketika maksud tersembunyi CW mulai terungkap.
Mainstream menampilkan Frankie, perempuan muda yang melihat peluang terkenal setelah bertemu Link, pria eksentrik yang diperankan Andrew Garfield. Keduanya membuat video yang perlahan mendapat perhatian publik. Namun seiring popularitas meningkat, Frankie melihat sisi lain ketenaran yang memengaruhi hubungan, identitas, dan cara seseorang menampilkan diri.
Delapan film ini menegaskan bahwa tekanan menjadi influencer tidak hanya soal jumlah pengikut. Obsesi, kebohongan, dan persaingan menjadi harga yang harus dibayar untuk mempertahankan citra sempurna di dunia maya.