KALIMANTAN TIMUR — Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan mobil dari dealer ke konsumen mencapai 433.848 unit hingga Juni 2026. Namun, angka tersebut tidak berbanding lurus dengan kinerja pembiayaan yang disalurkan perusahaan multifinance. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan mobil justru mengalami kontraksi signifikan di tengah pasar yang terlihat ekspansif.
Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani menyampaikan, memasuki semester II-2026, pihaknya mengantisipasi moderasi laju pertumbuhan. Beberapa faktor yang dicermati antara lain tekanan nilai tukar Rupiah, tingkat suku bunga yang masih tinggi, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
"Ditambah, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih," ucapnya kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).
Gani menambahkan, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan harga pokok kendaraan maupun biaya pembiayaan. Imbasnya, konsumen cenderung menunda keputusan pembelian dan lebih selektif dalam mengambil skema kredit.
Di tengah tekanan industri, CNAF membukukan penyaluran pembiayaan mobil senilai Rp 2,7 triliun hingga Juni 2026. Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman menilai pencapaian tersebut mencerminkan kinerja yang tetap sehat di tengah dinamika pasar.
"Selain itu, pasar otomotif juga makin dinamis dengan hadirnya beragam pilihan kendaraan yang menawarkan fitur kompetitif, serta makin sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (13/8/2026).
Sementara itu, Adira Finance mencatat penyaluran pembiayaan mobil baru sebesar Rp 6,8 triliun pada semester I-2026. Angka ini masih tumbuh positif dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, meskipun tekanan terhadap daya beli tetap terasa.
EVP Corporate Communication & Strategy ACC Riadi Prasodjo menyatakan pihaknya masih terus mencermati perkembangan pasar. ACC akan memperkuat sinergi dengan mitra dan dealer otomotif, menghadirkan program pembiayaan yang relevan, serta meningkatkan kemudahan layanan bagi konsumen.
Adira Finance menerapkan pendekatan lebih ketat dengan tetap menangkap potensi permintaan. "Pada saat yang sama, pertumbuhan pembiayaan akan tetap dilakukan secara selektif melalui proses underwriting yang prudent," jelas Gani.
Perusahaan juga memperkuat proses penagihan dan pengelolaan kualitas portofolio melalui optimalisasi tim collection serta pemantauan yang lebih intensif. Strategi penanganan disesuaikan dengan kondisi masing-masing konsumen untuk menekan risiko kredit macet.
Pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody menilai prospek pembiayaan mobil hingga akhir tahun masih menantang. Selain rasio Non Performing Financing (NPF) industri yang berada di level 3,01%, kenaikan suku bunga kredit dan ekonomi nasional yang belum pulih menjadi penghambat utama.
"Jadi, tidak berharap bahwa kredit akan tumbuh tinggi, kemungkinan besar di bawah 5% pada akhir tahun ini," kata Jody kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).
Meski demikian, kebutuhan terhadap moda transportasi dipastikan tetap ada. Ristiawan menilai hal ini menjadi peluang bagi perusahaan multifinance untuk mendorong pertumbuhan melalui solusi pembiayaan yang relevan dan sesuai kebutuhan pasar.