BRISBANE — Kenaikan biaya hidup di Australia menjadi beban baru bagi penerima beasiswa asal Indonesia, terutama mereka yang membawa keluarga. Sitti Rahma Yunus, dosen asal Makassar yang menempuh gelar PhD di University of Queensland dengan beasiswa LPDP sejak Januari 2025, mengaku tunjangan bulanannya habis hanya untuk membayar sewa rumah.
Rahma, sapaan akrabnya, tinggal bersama suami dan empat anaknya di kawasan Taringa, Queensland. Ia sempat menyewa rumah seharga AU$620 per minggu, namun ketika harga naik menjadi AU$680 per minggu, ia memilih pindah ke rumah lebih kecil dengan dua kamar tidur seharga AU$400 per minggu.
"Kita dapat living allowance AU$2.700 [per bulan], kalau AU$620 kita bayar per minggu itu, jatuhnya AU$2.400 [per bulan]. Udah habis untuk [sewa] rumah aja itu living allowance," katanya kepada ABC Indonesia.
Rahma menerima tunjangan biaya hidup setiap tiga bulan. Ia juga mendapat tambahan tunjangan keluarga untuk suami dan satu anak, masing-masing sebesar 25 persen dari dana hidup bulanan, sesuai Buku Panduan Pencairan Keuangan Beasiswa 2025 LPDP.
Sebelum membawa keluarganya ke Australia, Rahma mengaku harus meminjam sekitar Rp400 juta ke bank. Sekitar Rp300 juta digunakan untuk membeli asuransi kesehatan bagi suami dan anak-anaknya yang tidak ditanggung LPDP, sementara sisanya untuk tiket pesawat dan kebutuhan keberangkatan.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, suaminya bekerja penuh waktu sebagai petugas kebersihan di sekolah tempat anaknya belajar. Sementara itu, biaya penitipan anak yang mahal membuat Rahma mengurus sendiri buah hatinya yang berusia sekitar lima bulan dan dua setengah tahun.
"Saya mau menitipkan anak, nanti kita enggak cukup uangnya gitu. Jadi itu yang saya anggap sebenarnya berat sebagai ibu," ujarnya.
Pengalaman serupa dialami Anjana Demira, penerima Australia Awards Scholarship (AAS) yang sedang menempuh Master of Global Media Communication di University of Melbourne. Ia datang bersama suami dan satu anak, dengan tunjangan Contribution to Living Expenses (CLE) sekitar AU$1.389 setiap dua minggu.
Berbeda dengan LPDP, AAS tidak memberikan kontribusi biaya hidup untuk anggota keluarga. Anjana harus membeli asuransi kesehatan untuk suami dan anaknya selama dua tahun di Australia, menghabiskan sekitar Rp120 juta dari tabungan pribadi.
Ia juga mengaku mengeluarkan sekitar Rp20 juta dari tabungannya meski sudah menerima Establishment Allowance sebesar AU$5.000 saat tiba di Australia. Survei Study Australia akhir 2025 mencatat 41 persen mahasiswa internasional kesulitan mencari tempat tinggal, menjadikan biaya sewa sebagai masalah utama.