KALIMANTAN TIMUR — Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengungkapkan gempa terjadi pukul 19.34.27 WIB. Hasil analisis institusinya menunjukkan fenomena ini merupakan jenis gempa menengah akibat deformasi dalam lempeng samudra yang menunjam, atau dikenal sebagai intra-slab.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat deformasi dalam lempeng samudra yang menunjam (intra-slab)," kata Wijayanto dalam keterangan resmi, Senin (10/8) malam.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan gempa ini merupakan manifestasi deformasi internal Lempeng Nazca yang menunjam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan di sistem subduksi Palung Peru-Chili. Pelepasan tegangan dari proses itu menghasilkan gelombang seismik dengan jangkauan rambatan yang khas.
Berbeda dengan gempa dangkal pada batas lempeng (interplate), gempa intraslab pada kedalaman menengah merambat melalui material lempeng yang kaku, padat, dan relatif dingin. Kondisi ini membuat atenuasi atau pelemahan gelombang sangat rendah, sehingga energi gempa berfrekuensi tinggi dapat ditransmisikan secara efisien.
"Kondisi material ini menyebabkan tingkat atenuasi gelombang sangat rendah, sehingga energi gempa berfrekuensi tinggi dapat ditransmisikan secara sangat efisien. Alhasil, guncangan tanah yang dihasilkan cenderung lebih kuat dan destruktif jika dibandingkan dengan gempa interplate bernilai magnitudo setara di sumber lain," terang Daryono.
Posisi sumber gempa yang berada di kedalaman menengah juga membuat gelombang seismik memancar ke permukaan dengan cakupan luas. Akibatnya, wilayah yang berjarak ratusan kilometer dari episenter masih dapat merasakan getaran.
Analisis mekanisme sumber BMKG menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan geser naik atau oblique thrust fault. Meski berkekuatan besar, hasil pemodelan BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia.
Gempa 10 Agustus 2026 menjadi salah satu yang terkuat di wilayah barat Kolombia dalam beberapa dekade terakhir. Negara ini memiliki riwayat panjang gempa destruktif, termasuk Gempa Cúcuta pada 1875 yang menewaskan sekitar 10 ribu orang di dekat perbatasan Venezuela.
Pada 1906, gempa magnitudo 8,8 terjadi di lepas pantai perbatasan Ekuador-Kolombia dan memicu tsunami besar dengan korban jiwa mencapai 1.500 orang. Kemudian pada 1999, gempa magnitudo 6,2 mengguncang kawasan kopi Eje Cafetero di sekitar Armenia dan menewaskan lebih dari 1.000 orang.