UJOH BILANG — Harga beras di Long Apari, Mahakam Ulu (Mahulu), menembus Rp 1 juta per karung. Tabung LPG 3 kilogram mencapai Rp 750 ribu. Bahan bakar minyak (BBM) eceran Rp 30 ribu per liter. Kondisi ini terjadi setelah jalur distribusi logistik melalui Sungai Mahakam terputus akibat musim kemarau di kawasan hulu Kalimantan Timur.
Krisis ini memantik pernyataan terbuka dari dua pemuda perbatasan, Kornelius Zivan Lie Aran dan Benediktus Sava. Pernyataan mereka beredar luas di media sosial. Keduanya mendesak negara hadir menjamin kebutuhan dasar masyarakat, bukan sekadar menyerahkan persoalan pada faktor alam.
Dalam pernyataan yang diterima Kaltim Post, Jumat (7/8), Kornelius dan Benediktus menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar dampak kemarau. Ini cermin lemahnya kehadiran negara di wilayah perbatasan.
"Jangan tanya kenapa harga beras Rp 1 juta. Tanya, di mana negara saat kapal logistik tidak bisa masuk Mahakam. Jangan tanya kenapa LPG Rp 750 ribu. Tanya, di mana subsidi yang katanya untuk rakyat," tulis mereka.
Keduanya menekankan bahwa Long Apari adalah bagian sah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Long Apari itu bukan wilayah asing. Long Apari adalah akta kelahiran NKRI. Tapi kenapa setiap kemarau tiba, kami harus membayar kemerdekaan ini dengan kelaparan?" demikian isi pernyataan tersebut.
Kornelius dan Benediktus juga menyoroti ketimpangan antara program pembangunan yang dicanangkan pemerintah dengan realitas di lapangan. "Program ada. Anggaran ada. Proyek ada. Tapi sampai di Long Apari tinggal namanya saja. Kemarau boleh datang setiap tahun, tetapi pengabaian tidak boleh diulang setiap tahun," ungkap mereka.
Mereka mendesak pemerintah menghentikan narasi keterpencilan dan akses sulit sebagai alasan lambatnya pembangunan. "Cukup sudah narasi terpencil. Cukup sudah alasan akses sulit. Sulit karena tidak pernah mau dimudahkan. Terpencil karena sengaja ditinggalkan," tegas keduanya.
Di akhir pernyataan, kedua pemuda itu menegaskan bahwa masyarakat Long Apari tetap mencintai Indonesia dan tidak menuntut pemisahan diri. "Kami bukan meminta pisah. Kami menuntut negara hadir. Selama Merah Putih masih berkibar di Long Apari, hutang negara kepada kami belum lunas," tutup mereka.
Masyarakat berharap pemerintah pusat maupun daerah segera mengambil langkah konkret. Solusi jangka pendek diperlukan untuk menjaga pasokan sembako selama musim kemarau. Solusi jangka panjang dibutuhkan agar persoalan distribusi logistik di kawasan hulu Mahakam tidak terulang setiap tahun.
Long Apari merupakan salah satu kecamatan terpencil di Mahakam Ulu dengan akses utama melalui Sungai Mahakam. Ketergantungan penuh pada transportasi sungai membuat warga sangat rentan terhadap perubahan musim dan kondisi debit air.