BERAU — Layar bukan penutup cerita, melainkan pembuka perbincangan. Prinsip itulah yang dipegang Tepian Kolektif saat menggelar Tepi Layar #5, festival film alternatif yang berlangsung di dua venue berbeda selama dua hari. Sepuluh film dengan durasi beragam diputar, jauh lebih banyak dibanding edisi sebelumnya yang hanya menayangkan satu judul di satu lokasi.
Aliansi Layar Terjal (ALT) turut meramaikan perhelatan ini untuk pertama kalinya. Bagi Tepian Kolektif, perluasan jumlah karya bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan upaya memperlebar ruang perjumpaan antara penonton dan sinema yang jarang tayang di bioskop komersial.
Azwar Ahmad, anggota Tepian Kolektif, menegaskan bahwa kesuksesan festival tidak pernah diukur dari banyaknya kursi terisi. Keramaian tanpa makna dianggapnya sia-sia.
"Bukan sekadar ramai yang dicari tapi kami ingin ini meninggalkan bekas," ujarnya.
Konsistensi menjadi tantangan tersendiri. Selama lima tahun terakhir, Tepi Layar hadir setahun sekali. Semua anggota komunitas harus membagi waktu dengan pekerjaan utama mereka. Persiapan setiap seri bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Kurasi film menjadi pembeda utama Tepi Layar. Panitia sengaja memilih karya eksperimental, video art, dan film-film yang lebih akrab beredar di festival internasional ketimbang judul box office.
Azwar menjelaskan bahwa masyarakat umum kerap memandang film hanya sebagai hiburan. Padahal, dunia sinema memiliki spektrum yang jauh lebih luas dengan berbagai bentuk, struktur, dan cara bertutur yang tidak selalu mengikuti pola umum.
"Ada karya-karya yang menawarkan bentuk, struktur, dan cara bercerita yang berbeda. Itu yang ingin kami hadirkan di Tepi Layar," katanya.
Panitia menyadari tidak semua karya mudah dicerna dalam sekali menonton. Justru dari kebingungan itulah dialog lahir. Ketika penonton mulai bertanya tentang makna sebuah adegan, diskusi terbuka dengan beragam sudut pandang.
"Tidak semua orang yang menonton harus langsung mengerti. Justru dari ketidakmengertian itu kami berharap akan banyak pertanyaan muncul dan semakin banyak diskusi yang terbangun," ungkap Azwar.
Pertanyaan sederhana seperti "film tadi sebenarnya tentang apa?" dinilai cukup untuk memantik percakapan yang hidup. Tepi Layar tidak pernah menuntut keseragaman tafsir. Setiap orang bebas merefleksikan pengalaman menontonnya sendiri.
"Tentunya paling penting membuka diri untuk berdialog," tuturnya.
Selain menyuguhkan bentuk sinema yang berbeda, Tepi Layar juga mengangkat tema-tema yang dekat dengan keseharian masyarakat namun minim ruang di media mainstream. Hubungan manusia dengan sungai, tradisi Maladup, cara pandang masyarakat terhadap buaya, hingga persoalan sosial lainnya menjadi bagian dari cerita yang ditampilkan.
Bagi Tepian Kolektif, isu-isu tersebut bukan persoalan pinggiran yang tidak penting. Justru karena selama ini luput dari perhatian banyak orang, layar menjadi medium untuk menghidupkan kembali percakapan tentang hal-hal tersebut. Lewat film, mereka berharap ruang untuk saling mendengar dan memahami terus tumbuh di tengah masyarakat Berau. (*)