BALIKPAPAN — Sebanyak 86 perusahaan membuka 2.079 lowongan kerja di Job Market Fair (JMF) 2026 yang digelar di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome, Selasa (14/7/2026). Hingga hari pertama, 2.086 pencari kerja telah mendaftar. Namun, di balik antusiasme itu, Disnaker Balikpapan justru menyoroti masalah klasik yang kembali muncul: para pelamar belum siap bersaing di pasar tenaga kerja.
Evaluasi dari penyelenggaraan job fair tahun sebelumnya menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Tingkat penyerapan tenaga kerja hanya berkisar di angka 40 persen. Artinya, dari ribuan pelamar yang mengikuti proses seleksi, belum sampai separuhnya yang berhasil diterima bekerja.
"Tahun ini harapan kami bisa meningkat di atas 50 persen. Kalau ada sekitar dua ribu pelamar, mudah-mudahan seribu orang bisa terserap," ujar Adamin saat ditemui di lokasi.
Kepala Disnaker Balikpapan membeberkan tiga faktor utama yang menghambat penyerapan tenaga kerja. Pertama, sejumlah posisi yang dibuka perusahaan tidak menjadi pilihan utama pencari kerja. Jabatan seperti tenaga pemasaran dan pramuniaga masih kerap sepi peminat, meskipun kebutuhan perusahaan terhadap posisi itu cukup besar.
Kedua, sebagian pelamar belum memenuhi persyaratan pendidikan formal yang ditetapkan perusahaan. Ketiga, pengalaman kerja dan keterampilan yang dimiliki pencari kerja belum sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.
"Banyak perusahaan meminta pengalaman atau skill tertentu. Sementara pencari kerja kita belum memiliki pengalaman maupun keterampilan yang dibutuhkan," ungkap Adamin.
Disnaker Balikpapan menilai persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menggelar bursa kerja. Oleh karena itu, pemerintah kota kini memperkuat program pelatihan vokasi dan pemagangan. Program ini diyakini bisa menjadi jembatan untuk mempersempit kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan perusahaan.
Pemagangan dinilai menjadi salah satu cara efektif agar pencari kerja memiliki bekal pengalaman langsung sebelum benar-benar masuk ke dunia industri. Dengan begitu, saat lowongan dibuka, mereka sudah siap bersaing dan tidak lagi gagal di tahap seleksi karena minimnya keterampilan teknis.