BALIKPAPAN — Sebanyak 78 titik panas terdeteksi di Kalimantan Timur akibat musim kemarau yang jauh lebih kering dibanding tahun lalu. Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengungkapkan bahwa rata-rata titik panas harian di Kaltim saat ini berada di atas angka 50. Bahkan, sempat menyentuh lebih dari 100 titik dalam satu hari.
Berdasarkan data sebaran terakhir, wilayah bagian tengah Kaltim mendominasi kemunculan titik panas. Kabupaten Kutai Timur mencatat 27 titik, disusul Kutai Kartanegara dengan 15 titik. Petugas juga memberikan perhatian khusus pada indikator warna merah di Berau serta Samboja, Kutai Kartanegara, yang menunjukkan tingkat kepercayaan sangat riil terhadap potensi kebakaran.
“Titik panas itu tidak melulu berarti ada api atau kebakaran hutan dan lahan. Indikator tersebut mendeteksi suatu wilayah yang suhu permukaannya jauh lebih tinggi daripada suhu lingkungan sekitarnya,” jelas Huda di Balikpapan, Senin (13/7/2026).
Huda menerangkan bahwa fenomena El Nino tahun ini memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan intensitas hujan secara drastis. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus, sementara dampak El Nino akan semakin dirasakan pada September, Oktober, dan November mendatang.
“Jika aktivitas El Nino terus meningkat, maka dampak kemarau akan semakin parah,” imbuhnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melarang keras aktivitas pembakaran lahan di area perhutanan. Langkah antisipasi dini langsung digenjot lewat Simulasi Pemadaman Karhutla di Helipad MBH, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN pada Jumat (10/7/2026).
Simulasi terpadu yang melibatkan kementerian, TNI/Polri, badan usaha, hingga masyarakat ini bertujuan menguji sistem deteksi dini kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla di sekitar Ibu Kota Nusantara yang tengah dalam tahap pembangunan.